Dalam beberapa dekade terakhir, perawatan mesin dan peralatan produksi telah berkembang menjadi salah satu bidang terpenting dalam lingkungan bisnis karena peningkatan persaingan global menyebabkan perubahan luar biasa dalam cara perusahaan beroperasi untuk bisa bersaing sehingga melakukan berbagai usahan untuk meningkatkan mutu, efisiensi dan produltifitas (Saleem et al., 2017).

Menurut Modgil & Sharma (2016), perubahan dalam cara pandang perusahaan ini telah mempengaruhi cara perawatan mesin dan peralatan produksi dalam mendukung keberhasilan bisnis dalam persaingan global dengan produktifitas dan mutu yang meningkat serta biaya menurun. Rastegari & Salonen (2016) selanjutnya menambahkan bahwa penerapan konsep lean adalah salah satu perubahan signifikan dalam setiap perusahaan, dimana dengan memperkenalkan konsep lean dalam setiap industri yang dimulai dari industri manufaktur berupa Just In Time dan Demand Flow Technology untuk sukses di pasar yang penuh persaingan.

Akibatnya, permintaan untuk peralatan produksi yang dapat diandalkan meningkat. Kebutuhan untuk memiliki ketersediaan peralatan produksi yang tinggi menyebabkan perusahaan memerlukan strategi pemeliharaan yang lebih efektif dan efisien untuk mencapai sistem produksi yang kompetitif dengan mengoptimalkan pemeliharaan peralatan produksi sebagai salah satu aspek kunci dari perbaikan berkelanjutan perusahaan karena mesin merupakan bagian dari aset perusahaan yang sangat penting  seperti yang di sebutkan Kelly (2006) dalam bukunya yang berjudul Strategic Maintenance Planning. Untuk mencapai kinerja kelas dunia, Hooi & Leong (2017) menyatakan bahwa semakin banyak perusahaan yang mengganti strategi reaktif dan perbaikan setelah ada kerusakan (Corrective Maintenance) dengan strategi proaktif seperti pemeliharaan pencegahan (Preventive Maintenance) dan perawatan prediksi (Predictive Maintenance) maupun strategi agresif seperti pemeliharaan produktif total (Total Productive Maintenance).

Total Productive Maintenance (TPM) adalah konsep yang awalnya diperkenalkan di Jepang untuk pemeliharaan sejak tahun 1971. Menurut Nakajima (1988) yang memperkenalkan konsep tersebut, TPM dapat didefinisikan sebagai perawatan produktif yang melibatkan partisipasi total dari semua karyawan. TPM memastikan peningkatan dengan mengoptimalkan keandalan mesin dan manajemen keseluruhan aset perusahaan (Robinson & Ginder, 1995). TPM bertujuan untuk menghilangkan akar penyebab masalah serta melibatkan anggota mulai dari level operator hingga manajemen. Peningkatan efisiensi dengan biaya rendah dan pencapaian cacat yang minimum dimungkinkan dengan penerapan TPM yang merupakan tanggung jawab semua karyawan di seluruh organisasi dengan target zero defect dan zero breakdown dalam operasi harian. Menurut Eti et al. (2004), TPM menekankan pada tiga konsep, yaitu efektivitas peralatan yang optimal, kegiatan kelompok kecil (small group activity) dan pemeliharaan operator otonom. Modgil & Sharma (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa TPM terkait erat dengan TQM (Total Quality Management) karena keduanya diarahkan untuk membuat perusahaan lebih kompetitif dengan TPM lebih ke arah operasi lapangan dan TQM lebih tentang elemen strategis seperti inovasi produk, mutu dan pelaporan data, penelitian dan pengembangan (R&D) dan pemanfaatan teknologi. Dengan kata lain, tujuan utama TPM pada suatu perusahaan adalah bagaimana suatu perusahaan dapat mengelola asetnya yang paling penting yaitu mesin dan peralatan. Menurut Ahuja & Khamba (2008), TPM menjadikan perawatan sebagai bagian penting dari bisnis karena tujuan utamanya adalah meningkatkan daya saing organisasi dengan pendekatan terstruktur yang kuat untuk mengubah pola pikir karyawan sehingga membuat perubahan nyata dalam budaya kerja organisasi. Disamping itu, TPM berupaya melibatkan semua tingkatan dan fungsi dalam suatu organisasi untuk memaksimalkan efektivitas semua peralatan produksi. Metode ini selanjutnya menyempurnakan proses dan peralatan yang ada dengan mengurangi kesalahan dan kecelakaan.

Waktu dan Tempat

Kegiatan ini dilaksakankan pada :

Hari/Tanggal                       : Kamis, 4 Juni 2020

Waktu                                   : 09.00 – 12.00

Tempat                                : On line dengan Zoom

Tujuan Kegiatan

Tujuan dari diselenggarakannya Kuliah Umum dengan tema “Penerapan Total Productive Maintenance di Divisi Fixed Plant Maintenance Perusahaan Pertambangan”  adalah  untuk meningkatkan wawasan keilmuan dan informasi bagi Mahasiswa Poltek Simas Berau mengenai penerapan suatu metode maintenance, masalah-masalah yang dihadapi dalam penerapannya maupun manfaat yang diperoleh perusahaan setelah menerapkan sistem tersebut .

 

Manfaat

Membuka cakrawala pengetahuan mahasiswa sehingga mampu meningkatkan kualitas keilmuan mahasiswa serta membuka cara pandang mahasiswa terhadap berbagai metode maintenance di industri terutama industri pertambangan.