Gedung Parapatan, 21–22 April 2025 — Program Studi D3 Perawatan Mesin kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri melalui penyelenggaraan Workshop Evaluasi dan Pengembangan Kurikulum Program Studi Perawatan Mesin. Selama dua hari penuh, kegiatan ini menjadi langkah strategis antara akademisi dan praktisi industri dalam rangka merancang kurikulum yang link and match dengan kebutuhan dunia kerja.

Sinergi Hari Pertama: Industri Bicara Kebutuhan Nyata
Hari pertama workshop menghadirkan sejumlah mitra strategis dari berbagai perusahaan terkemuka, di antaranya PT Berau Coal, PT United Tractors, PT Trakindo Utama, PT PAMA Persada, PT Madhani Talatah Nusantara, Berau Cocoa, PT Bumi Artlantis Raya (BAR) dan PT Mutiara Tanjung Lestari (MTL). Para perwakilan industri secara aktif berdiskusi dan memberikan masukan penting terkait kebutuhan kompetensi, penguatan program magang, serta pembentukan karakter dan etika kerja mahasiswa.

Kehadiran mitra industri ini memperkuat harapan bersama untuk mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu beradaptasi dan memberikan kontribusi nyata di dunia kerja.
Sinergi Hari Kedua: Sentuhan Akademik dari pakar Akademik
Pada hari kedua, workshop menghadirkan akademisi nasional, Prof. Rusdi Nur, S.ST., M.T., Ph.D. dari Politeknik Negeri Ujung Pandang. Dalam paparannya, Prof. Rusdi menekankan pentingnya penyesuaian Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), serta integrasi kearifan lokal dan pemenuhan standar akreditasi unggul.

Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan kurikulum yang adaptif, relevan, dan berorientasi masa depan.
Menuju Kurikulum Tangguh & Adaptif
Hasil dari workshop ini akan menjadi fondasi penting dalam transformasi kurikulum Prodi Perawatan Mesin, yang berorientasi pada pencapaian lulusan unggul, kompeten, dan siap bersaing di sektor industri.

Terima kasih kepada seluruh mitra industri dan narasumber yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut untuk mendukung penguatan pendidikan vokasi di Indonesia.
Diskusi intensif dilakukan guna menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri, memperkuat program magang, dan membekali mahasiswa dengan etika, kompetensi, serta mentalitas kerja yang relevan.